ℜ 17 Sya'ban 1431 H

Islam Menekankan perniagaan

Islam merupakan agama yang realistik, yang diturunkan Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Untuk meraih kehidupan yang baik di akhirat, Islam menekankan umatnya untuk berusaha dan bekerja keras meraih kebaikan di dunia.

Bagaimana umat akan memperoleh kebahagiaan di akhirat kalau di dunia hidup susah? ''Karena itulah, Alquran mengajarkan agar selalu berusaha dan berdoa untuk memperoleh kebahagiaan di dunia yang tujuannya adalah kebahagiaan di akhirat,'' tandas KH Noer Muhammad Iskandar SQ, pimpinan Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah Jakarta kepada Damanhuri Zuhri dari Republika.

Berikut wawancara lengkap dengan kiai yang menggeluti berbagai jenis usaha mulai dari minimarket, rumah makan, perikanan, penggemukan kambing dan sapi serta usaha lainnya ini:

Bagaimana Islam memandang kewirausahaan ini?
Islam, agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW, adalah agama yang realistik, agama yang diturunkan untuk mengatur kehidupan umat manusia yang hidup di dunia. Islam juga mengajarkan hidup ini tidak hanya di dunia. Hidup yang sekarang adalah tempat bercocok tanam untuk kehidupan di alam nanti, yaitu alam akhirat.
Bagaimana kita akan memperoleh kebahagiaan di akhirat, kalau di dunia susah. Karena itu, Alquran mengajarkan agar selalu berusaha dan berdoa untuk memperoleh kebahagiaan di dunia yang tujuannya adalah kebahagiaan di akhirat. Usaha yang kita lakukan di dunia, sesungguhnya untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat. Karena itu, apa pun usaha kita di dunia, tidak bisa menyimpang dari aturan-aturan yang telah ditetapkan.
Misalnya saja, Alquran memberikan pelajaran supaya umat mau berdagang. Sehingga dalam konteks yang paling penting saja, Allah mengistilahkan dengan tijarah (berdagang atau perniagaan).
Seperti firman Allah pada Surat Ash-Shaff (61) ayat 10, yang artinya, ''Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu tijarah (perniagaan) yang menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,''

Apa hikmah dari adanya kata-kata tijarah (perniagaan) dalam ayat tersebut?
Allah SWT memberitahukan, dalam kata tijarah (perniagaan) ini ada sesuatu yang sangat luar biasa. Karena itu Nabi SAW memberikan contoh, sejak kecil beliau sudah berdagang. Istrinya, Khadijah juga dikenal sebagai pengusaha sukses yang dananya banyak digunakan untuk kegiatan dakwah Islam.
Dengan perdagangan, kita mendapatkan keuntungan karena sebenarnya perdagangan itu satu cara yang di dalamnya tersimpan rezeki yang begitu banyak. Orang bisa saja membeli alat teknologi, tetapi akhir-akhirnya yang mendapatkan keuntungan besar adalah pedagang. Nah, perdagangan itu yang paling maju di dunia ini adalah Cina. Makanya, Nabi SAW dalam sebuah hadis menyatakan carilah ilmu walapun sampai ke negeri China.

Artinya sudah semestinya sekarang umat Islam banyak yang terjun menjadi pedagang, meneladani Rasulullah SAW?
Ya. Ketika Nabi SAW memberi contoh dengan berdagang, itu artinya umat Islam kalau betul-betul mengikuti sunnah nabinya, jangan berpangku tangan, jangan bermalas-malasan. Berdaganglah tapi dengan cara beriman kepada Allah, beriman kepada Rasulullah dan jihad di jalan Allah.
Kalau sudah berhasil mendapatkan uang, berjihadlah. Apa yang kau terima dari keuntungan itu ada zakat, ada infak, sedekah, ada hak orang-orang miskin yang di dalam mereka ada suara Allah.

Jadi, dengan memakmurkan diri, kita juga bisa membantu orang lain yang membutuhkan?
Dengan begitu banyak orang miskin di negeri kita, seharusnya kita bersyukur, ini sebuah kesempatan untuk melakukan jihad. Bukan dalam artian qital (peperangan, red) tapi berusaha sungguh-sungguh, berdagang, dan hasilnya sebagian kita berikan kepada mereka.
Makanya, saya bersama sekitar 415 kiai se-Jabodetabek sepakat untuk lebih fokus berbicara ekonomi rakyat berbasis syariah seperti yang sudah dicontohkan para ulama terdahulu. Itu yang kita kembangkan dan akan dicanangkan nanti pada tanggal 7 Juli 2009.

Pesantren Ash-Shidiqiyah sendiri sudah membuka wirausaha? Bisa dijelaskan?
Membangun pondok pesantren adalah salah satu cara dalam mengembangkan ekonomi. Mula-mula saya membuka koperasi supaya ada kegiatan jual beli. Ada pula toko kecil, kemudian ini dikembangkan supaya aksesnya tidak hanya di dalam, tapi bisa juga keluar sehingga masyarakat bisa turut beramal jariyah buat pondok, dengan cara membeli barang-barang yang ada di toko.
Setelah berkembang kemudian saya bekerjasama membuka cabang-cabang minimart. Begitu juga dengan ponpes di kampung-kampung, di sana kan berkembang dengan agribisnis, maka saya mencoba beberapa pesantren saya yang ada di kampung di arahkan ke sektor itu juga.
Sumber: adm
Konsultasi Agama



Lowongan Kerja
Bursa Jodoh
Info Haji Kota Bogor
Link Situs



Copyright © 2005 MasjidKotaBogor.Com
Tidak dilarang untuk menyalin isi dari situs ini dengan menulis sumber URL