Untuk Apa Bekerja?
Tanggal Diupload: 27-02-2008 16:12:26
Judul : Untuk Apa Bekerja?
Uraian :
Oleh : Drs. Yus Khaerunnas Malik
Bekerja adalah perlambang bahwa kita adalah manusia. Orang yang tidak bekerja alias menganggur {bukan akibat PHK atau sulitnya mendapatkan pekerjaan, atau karena sistem yang menyulitkan, tapi lebih karena malas; ingin hidup serba mudah, dialas dan dilayani) akan mengurangi daya jual kemanusiaannya; mereduksi nilai-nilai insaniyahnya. Bahkan karakternya lebih naif dari binatang. Bukankah binatang yang terbatas akalnya pergi pagi dengan perut keroncongan, pulang petang dengan perut kekenyangan, bahkan dapat menyisihkan makanan untuk anak-anaknya. Kita sebagai hamba Allah yang dibekali kelengkapan; fasilitas akal dan qalbu rasa-rasanya tak pantas untuk duduk dan berdiam diri, malu kepada mahluk-mahluk lain yang lebih rendah akalnya—semata-mata mengandalkan gharizahnya. Namun mereka hidup dan dapat menikmati rizki yang ditebar oleh Allah swt di seluruh penjuru alam (perhatikan QS Al-A'raf {7}: 179).
Ingat, bahwa karena kita adalah manusia, maka kita bekerja. Karena kita bekerja maka kita menjadi manusia. Pekerjaan dan kemanusiaan adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Semakin kita sibuk bekerja, maka semakin teraktualkan jati diri kita sebagai manusia. YES!
Namun muncul pertanyaan...pekerjaan apa yang sekiranya identitas kehambaan kita (abdun) dan kemanusiaan kita (insan) dapat menyatu. Asasnya adalah IMAN. Iman adalah roda penggerak segala daya, kemampuan, upaya dan tenaga yang kita keluarkan; energi yang kita aktifkan untuk bekerja dengan prasyarat HALALAN THOYYIBA, pekerjaan yang halal dan baik—menurut koridor syar'iat (QS Al-Baqoroh {2}: 128, An-Nahl {16}: 114). Karena IMAN sebagai pondasi maka bekerja menjadi bagian dari rasa syukur kepada Allah SWT, karena fasilitas akal dan qalbu yang diberikan dan sumber daya alam yang dihamparkan merupakan anugrah tak terhingga. Semakin kita menggali dan mengeksplorasi semakin memperoleh hal-hal menakjubkan. Betapa Allah SWT amat sayang kepada hamba-hambanya, hingga seluruh ciptaanNya tak satupun yang sia-sia (QS Ali-Imron {3}: 191), dan (akan) diwariskan kepada hamba-hambaNya yang saleh (QS Al-Anbiya {21}: 105).
Awal Menapak
Indra, sebutlah demikian, tak bosan munajat setiap malam selepas tahajud untuk mendapatkan pekerjaan yang pantas dan sebanding dengan keahliannya. Terlebih lagi gelar kesarjanaan sudah disandangnya. Malu dong andaikan mendapatkan pekerjaan di bawah standar. Sesekali membaca koran, matanya tertuju ke halaman tengah yang memuat daftar lowongan kerja. Kalau ada, ia tuliskan alamatnya ke buku harian, dan esoknya bergegas ke alamat itu untuk mengajukan lamaran. Sesuatu yang umum terjadi di kalangan para pencari kerja Andaikan cocok dan gajinya lumayan ia terima dengan senang, dan mulailah bekerja secara rutin. Namun, bilamana jauh dari harapan, ia pun mengurungkannya dan mencari pekerjaan di tempat lain yang cocok.
Lain halnya dengan Budi, ia memang kuliah. Namun usaha daur ulang sampah yang ia tekuni sejak SMP tetap digelutinya. Toh, ia bisa kuliah gara-gara sampah ini. Prinsipnya, sampah tak perlu dibuang, sampah hanya perlu diolah. Dan di tangan orang cerdas dan perduli seperti dirinya sampah menjadi sesuatu yang berharga hingga diekspor ke mancanegara.
Dua tipe manusia ini menjadi pelajaran bagi kita dalam mencari pekerjaan. Yang satu bermentalkan karyawan, mencari pekerjaan di tempat-tempat tertentu, dan terbiasa dengan kondisi nyaman, sedangkan kedua bermentalkan wirausahawan mencari pekerjaan dari lingkungan sekeliling yang dengan mata cerdasnya mampu menangkap setiap peluang, karena itulah ia menggeliat dan siap menghadapi berbagai resiko dan tantangan.
Keduanya bekerja...dan sama-sama mendapatkan uang. Namun keduanya menghadapi budaya perusahaan yang berbeda, yang satu diikat oleh tata-tertib, aturan, penjadwalan, manajemen, profesionalisme dan investasi miliaran bahkan triliunan. Namun kedua, hanya perlu kemauan dan kerja keras. Di sekeliling kita dapat dijadikan peluang baik dalam hal barang maupun jasa.
Mungkin kita pernah mendengar orang-orang yang tak pernah sekolah namun kaya raya. Dia bekerja dengan gigih dan ulet. Kita juga dicontohkan oleh para sahabat Nabi seperti Abdurrahman bin Auf, Abu Tholhah dsb—sebagai wirausahawan sejati. Bahkan Abu Bakar, Umar dan Utsman pun adalah para saudagar yang sukses. Sampai-sampai seorang bijak berkata kecerdasan hanya menyumbang 1 persen saja dalam sebuah kesuksesan sisanya adalah kerja keras dan keuletan.
Beberapa hal yang perlu harus menjadi pijakan awal dalam bekerja adalah sebagai berikut:
1.Niat
Niat adalah motif, tujuan dan asas yang melatar-belakangi kita mengambil suatu pekerjaan. Apakah sebatas menyalurkan hobi dan keahlian, atau memanfaatkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari bangku sekolah atau lebih daripada itu, sebagai pembuktian bahwa kita seorang hamba Allah yang memang seharusya bersyukur terhadap nikmatNya khususnya nikmat akal dan pikiran sehingga kita menjadi cerdas, piawai dan profesional, atau lebih, lebih daripada itu, kita punya keluarga...istri dan anak-anak yang harus diberi nafkah sebagai bukti bahwa kita seorang suami yang bertanggung jawab (dunia-akhirat)...kita juga punya saudara; sepupu dan keponakan yang berada di bawah garis kemiskinan, kefakiran, yang harus kita bantu biaya sekolahnya...???
Yes. Disinilah niatan kita bekerja menjadi sangat penting. Beberapa dalil di bawah ini patut direnungkan:
"Dan katakanlah bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu...(QS At-Taubah {9} : 105)."
"Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rizkiNya, dan hanya kepadaNya kamu kembali...(QS Almulk {67}: 15)."
"Barangsiapa di malam hari keletihan karena bekerja dengan tangannya sendiri, maka di malam itu ia mendapatkan ampunan Allah SWT. (HR Ahmad)"
"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bekerja dan berkarya, dan barangsiapa bekerja keras demi (menafkahi) keluarganya maka (nilainya) seperti pejuang di jalan Allah Azza wa Jalla. (HR. Ahmad)."
"Sesungguhnya Allah senang andaikan seseorang diantara kamu mengerjakan sesuatu, ia lakukan secara profesional. (HR Baehaqi)."
Jadi, intinya niatkan kita bekerja semata-mata ibadah kepada Allah SWT, bukan sebatas mendapatkan gaji, honor atau insentif. Ibadah menjadi kata yang melampaui dunia ini. Di dunia kita mendapatkan uang di akhirat mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
2.Amanah
Ingat, bekerja adalah amanah—bukan sebatas amanah lembaga kepada kita, dimana kita diharuskan untuk profesional, punya skill yang memadai dan sikap yang baik berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai budaya lembaga yang kita tempati tapi juga amanah Allah kepada kita. Bagaimana menghubungkannya?
Ingat, bahwa amanah Allah kepada kita adalah Islam (yes! Islam) sebagai agama yang mengajarkan tentang sikap dan perilaku yang ma'ruf. Islam mengajarkan nilai-nilai kedisiplinan (seperti shalat lima waktu). Islam menekankan keadilan, tolong menolong, saling memajukan antar satu dengan lainnya, saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing dan budaya perbaikan diri yang terus menerus dalam kinerja dan penampilan.
Intinya bahwa pekerja muslim adalah pekerja profesional. Pekerja muslim punya skill yang memadai. Pekerja muslim paling disiplin. Pekerja muslim terpanggil jiwanya untuk selalu menolong sesamanya. Pekerja muslim memiliki kinerja terbaik dan penampilan yang oke (perhatikan QS Al-Anfal {8}: 27, An-Nisaa {4}: 58). Kalau yang terjadi sebaliknya APA KATA DUNIA!
3.Istiqomah
Allah sangat cinta kepada hambaNya yang istiqomah (QS Fushilat {42}: 30). Istiqomah adalah keajegan dalam memegang prinsip dan nilai-nilai; lurus dalam bersikap, berperilaku dan konsisten di jalur kebenaran. Budaya perusahaan pun sangat senang dan mengapresiasi pekerja muslim yang konsisten. Setia pada aturan, tata-tertib dan budaya perusahaan. Terlebih lagi Allah, Allah Rabb kita—sebagaimana ucapan Rasulullah saw, Allah sangat senang kepada hambaNya yang bekerja dengan tangguh dan konsisten pada jalur keahliannya, spesialisasinya. Dan sebaliknya Allah tidak suka kepada hambaNya yang bersikap bunglon...kadang rajin, kadang malas. Mentalnya naik turun, dan pada gilirannya dipandang sebelah mata oleh orang lain. Yang begini, KE LAUT AJE !
Sikap istiqomah akan membuat citra kita baik sebagai karyawan—lebih-lebih lagi sebagai muslim akan diacungi jempol—karirnya makin diapresiasi—dan boleh jadi meroket.
4.Ikhlas
Ikhlas adalah pemurnian tujuan, bahwa bekerja semata-mata karena ibadah kepada Allah. Coba bayangkan istri dan anak-anak anda di rumah, kita ingin mereka sejahtera, mendapatkan kehidupan yang layak dan dapat mengenyam pendidikan hingga tinggi tanpa kendala yang berarti. Bekerjalah...bekerjalah karena Allah, bekerjalah demi mereka juga. Atau, demi saudara kita, sepupu, keponakan, tetangga...yang miskin papa. Kita bekerja, dan kita harus punya uang, karena sebagian uang anda adalah untuk mereka juga (melalui zakat, infaq dan shodaqoh). Ikhlas menjadi kekuatan iman kita, agar tujuan hidup ini makin murni karena Allah semata.
5.Isti'adah
Isti'adah artinya permohonan akan perlindungan Allah kepada jiwa kita dari segala bentuk godaan syetan (seperti sifat-sifat buruk dan semacamnya). Isti'adah seringkali diucapkan dengan kalimat AUDZU BILLAHI MINAS SYAITHONIRROJIM (aku berlindung diri kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk). Syetan adalah perlambang keburukan, kejelekan dan pengingkaran akan kebenaran. Orang yang ber-isti'adah dalam hidupnya, ia akan berupaya membebaskan dirinya dari segala bentuk perilaku yang buruk baik dalam tindakan: cara makan, minum, tidur, berjalan, berkendaraan, cara bercumbu (suami-istri)..., dalam komunikasi, cara menyampaikan pesan, isi dan bobot pesan dan bahasa tubuh, mimik muka termasuk senyum (senyum juga shodaqoh lho!) dan dalam penampilan, cara berpakaian, pilihan warna pakaian, kebersihan badan (jangan jorok! Nanti dijorokin loh!) dsb. Sikap malas, tidak konsisten, munafik, manipulatif, serakah, egois, ujub, riya dan takabur adalah sifat-sifat syetan yang harus dilawan. Dan kita optimis bakal mememangkan pertarungan ini andaikan isti'adah kita sesuai dengan apa yang diajarkan Al-Quran dan Sunnah Rasul.
6. Ikrar
Ikrar adalah janji setia kepada Allah, kepada Rasul, kepada orang-orang yang kita cintai, dan kepada perusahaan. Mulai sekarang mari kita berbenah diri menjadi orang yang terbaik dan berkualitas. Sibukkan diri kita untuk terus memperbaiki diri. Jangan silau dengan kehebatan orang lain, bertumpulah pada kemampuan kita sendiri; jangan banyak berprasangka negatif. Berpikirlah positif untuk masa depan. Nabi saw menyatakan, berbahagialah orang yang senantiasa sibuk meneliti dan mempelajari kelemahan dan kekurangan dirinya daripada meneliti dan mempelajari kelemahan dan kekurangan orang lain (HR Abi Daar).
Dengan demikian UNTUK APA BEKERJA...? Yes untuk ibadah. Sebagai pembuktian bahwa kita adalah hamba Allah SWT yang mensyukuri segala nikmatnya.
Sumber : admin