ℜ 10 Jumadil Awwal 1429 H

Wahid Institut Adakan Kegiatan Mengenal Islam untuk Kaum Kristen

The Wahid Institute, sebuah LSM  yang kerap mengkampanyekan prinsip liberal Islam mengadakan kelas tentang Islam dan pluralisme untuk kaum muda Kristen.

LSM yang diprakarsai oleh mantan presiden Abdurrahman Wahid ini bekerjasama dengan Crisis Center Gereja Kristen Indonesia (GKI) mengadakan kelas itu dalam empat pertemuan.

Sebanyak 30 orang muda Kristen, termasuk mahasiswa, penulis, wartawan, penyiar radio, dan aktivis sosial, ikut menghadiri pertemuan pertama selama tiga jam tentang Islam dan Umat Agama lain, yang diadakan di aula dari institut yang terletak di Jakarta Pusat itu tanggal 18 Januari lalu.

Pertemuan akan diadakan setiap Jumat malam dan berlangsung hingga 8 Februari 2008. Para peserta akan diajak langsung dalam program live-in selama tiga hari di sebuah pesantren di Yogyakarta.

Pertemuan berikutnya, kaum muda Kristen ini akan diajarkan membicarakan “Peta dan Gerakan Islam Kontemporer.” Diantaranya, mereka akan diajarkan tentang; “Islam, Politik, dan Formalisasi Syariat-Syariat Islam; serta Islam dan Problem Keumatan.”

Koordinator kelas itu, Moqsith Gazali yang juga salah satu pegiat Jaringan Islam Liberal (JIL) mengatakan kepada UCA News, kurikulum kelas itu dibentuk lewat konsultasi dengan beberapa staf Sekolah Teologi Protestan, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara yang dikelola Yesuit, serta beberapa pendeta.

Maksud di belakang program yang merupakan salah satu media untuk meningkatkan dialog antaragama itu, kata Doktor Bidang Tafsir dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu, adalah untuk membantu orang non-Muslim yang mau belajar Islam dan pandangan Islam tentang pluralisme secara langsung dari tangan pertama, kutip sebuah situs Kristen.

Bahan-bahan yang dipublikasikan oleh institut, yang memiliki moto Seeding Plural and Peaceful Islam (Menyemai Islam yang Damai dan Plural), itu mengatakan bahwa institut itu bertujuan untuk mewujudkan prinsip-prinsip dan cita-cita intelektual Abdurrahman Wahid untuk membangun pemikiran Islam moderat yang mendorong terciptanya demokrasi, pluralisme agama-agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim di Indonesia dan seluruh dunia.

Abdurahman Wahid dan Maftuh Kholil adalah pembicara pada pertemuan pertama 18 Januari. 

Kholil, seorang aktivis dialog antaragama, adalah ketua NU Kota Bandung, ibukota Propinsi Jawa Barat, tempat ia juga mengelola sebuah pesantren.

Izin Membangun Gereja
Sebagaimana dikutip UCA News, Abdurahman Wahid kepada kaum muda Kristen itu mengaku, ada pandangan pluralitas dalam Islam. Ia mengutip dari Al-Quran: “Bagi Kalian agama kalian, bagiku agamaku.” Ini, katanya, “adalah esensi pluralisme –orang boleh menganut agama yang berbeda-beda.”
Situs itu juga mengutip, Abdurahman Wahid mengakui ia sendiri jika ia mengalami kesulitan memahami Al-Quran. “Maka kalian juga harus memeriksa Kitab Suci kalian dengan teliti. Tak bisa begitu saja,” katanya.

Kepada mantan presiden itu peserta juga menceritakan tentang serangan terhadap gereja-gereja oleh kelompok Islam tertentu dan meminta bantuannya.

Seorang peserta, Renata, meminta agar Gus Dur dan NU melindungi kegiatan agama Kristen dan membantu umat Kristiani mendapat ijin untuk membangun gereja.

“Umat Kristen perlu dukungan umat Muslim,” kata wanita itu kepada Wahid, seraya berharap agar Gus Dur “membantu kami mengatasi berbagai masalah dalam menghadapi umat Muslim lain.”

Dalam ceramahnya, Kholil menjelaskan enam prinsip bermasyarakat Nabi Muhammad sebagai konsekuensi logis menghadapi masyarakat Madinah yang heterogen pluralistik: al-Musawa (kesetaraan) dan al-Ikha (persaudaraan), al-Hurriyyah (kebebasan), al-Tadafu (saling melindungi), al-Taawun (saling membantu), al-Ishlah (perdamaian), dan al-Tasamuh (toleransi).

Ia mengatakan aksi pertama yang dilakukan nabi itu di Madinah adalah mendeklarasikan Shahifah Madinah (Piagam Madinah), “yang intinya komitmen bersama bahwa seluruh warga adalah berupa satu kesatuan masyarakat yang senantiasa bekerja-sama membangun dan mengatasi masalah-masalah sosial yang timbul di Madinah.”

Kholil bercerita bahwa tanggal 10 November, NU yang dipimpinnya di Bandung mengundang pemimpin agama Buddha, Hindu, Islam, Katolik, Konghucu, dan Protestan untuk bertemu di kantor NU di Jalan Sancang.

“Setelah berbicara, berbagi pengalaman, dan berdiskusi tentang situasi keagamaan di kota itu, kami, 17 pemimpin agama sepakat, menandatangani, dan mendeklarasikan komitmen bersama yang berisi lima poin.”

Deklarasi Sancang itu berbunyi: “Kami, umat beragama Kota Bandung, adalah bagian dari bangsa Indonesia yang senantiasa menjunjung tinggi kesatuan dan persatuan; menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan; selalu berjuang untuk tegaknya hukum dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kerukunan hidup demi mencapai kebahagiaan bersama; selalu mengembangkan sikap toleransi, tenggang rasa dan saling menghormati; selalu bekerja sama untuk berperan dalam mengatasi masalah-masalah sosial dan lingkungan.”

Kholid juga mengatakan ia dan para anggota NU juga mengunjungi gereja Protestan dan katedral Bandung untuk membagikan bunga bagi umat Kristiani di Hari Raya Natal 2006. Ia juga mengatakan ia mengalungkan bunga kepada para pemimpin agama Katolik dan Protestan pada kesempatan itu.

Menurut Kholil, ketua Pengurus Besar NU, KH Said Agiel Siradj, mengatakan dalam akhir sambutannya pada pertemuan 10 November itu: "Bagi NU yang mayoritas harus melindungi yang minoritas. Itu prinsip NU. NU siap menjadi tumbal keselamatan keutuhan Republik Indonesia."

Kursus yang sedang berjalan saat ini adalah Kelas Islam dan Pluralisme keempat. Program sebelumnya diberikan untuk para pendeta dan teolog Protestan.

Dalam sebuah makalahnya yang disampaikan pada kaum muda Kristen,  Marzuki Wahid, salah satu pemateri, membagi Islam dalam beberapa kategorisasi. Ia membagi “Islam ekslusif” (tertutup) dan “Islam inklusif” (terbuka).

Marzuki yang juga aktivis Islam Liberal dari Fahmina Institute Cirebon ini memasukkan NU organisasi senafas sebagai “Islam inklusif”. Namun memasukkan ormas-ormas Islam seperti;  DDII, FPI, MMI, HTI,  dan Persis sebagai “Islam ekslusif”.

“Dalam bacaan saya, masuk dalam kategori ini secara umum adalah organisasi DDII, LDII, FPI, MMI, HTI, HT, Persis, dan sebagian orang Muhammadiyyah. Kedua, Islam yang berorientasi pada kerahmatan semesta (ra hmatan lil ‘âlamîn), yakni ”Islam inklusif”. Masuk dalam kategori inklusif secara umum adalah organisasi NU, orang-orang (bukan keorganisasiannya) Muhammadiyyah, al-Washliyyah, Perti, al-Kahirat, dan Nahdlatul Wathan,” katanya dimuat di situs www.wahidinstitute.org
Sumber: admin
Konsultasi Agama



Lowongan Kerja
Bursa Jodoh
Info Haji Kota Bogor
Link Situs



Copyright © 2005 MasjidKotaBogor.Com
Tidak dilarang untuk menyalin isi dari situs ini dengan menulis sumber URL